Hidup Itu Tinggal Dijalanin Aja

Secuil Review dari buku "Lembaga Hidup", karya Buya Hamka

Oleh: Dandi Setiadi

Kadang-kadang kita itu sering aneh ya, hidup tinggal jalanin aja, tapi terkadang suka stress sendiri dan pusing sendiri, maka, untuk mengingatkan diri sendiri, saya mau nulis cukup panjang hari ini, itung-itung sebagai upaya saya untuk kalibrasi, adjustment, positioning, conditioning, memantapkan diri atau apalah terserah temen-temen mau pakai kosakata apa, hehe.

Ada sebuah buku dengan judul Lembaga Hidup yang ditulis oleh Prof. Dr. Hamka. Buku ini belum lama saya beli, yaitu pada malam hari Senin, 25 April kemarin. Di dalam cover belakang buku itu tertulis, "tidak satupun pendidikan formal ditamatkan. Banyak membaca menjadi modalnya, tak lupa belajar langsung dengan tokoh dan ulama, baik di Sumatera barat, Jawa, bahkan sampai ke Mekah. Peraih doktor honoris causa dari Universitas Al-azhar dan Universitas Prof Moestopo beragama ini wafat pada hari Jumat 24 Juli 1981", sedikit profil singkat dari Buya Hamka.

Dari buku tersebut, ditambah otak saya ini yang terus-menerus berfikir sawang sinawang kemudian menyimpulkan sesuatu, mulai dari sebuah kata "Lembaga" yang jika disederhakan berarti cetakan, layaknya cetakan kue yang kita isi dengan bahan-bahan mentah lalu kita panaskan dengan suhu tertentu, maka jadilah sebuah kue yang membentuk lembaga atau cetakan tertentu. 

Ya, seperti lembaga atau cetakan itu, manusia memiliki lembaga hidupnya masing-masing, lembaga itu terbentuk dengan komponen-komponen berupa rezeki, jodoh, maut yang telah ditetapkan sejak manusia dalam kandungan. Maka tugas manusia adalah mengisi lembaganya dengan yang baik-baik, mencari makanan yang baik dengan cara yang baik, mengisi waktu dengan urusan-urusan yang baik, yang juga berarti menghindari dari mengisi yang buruk-buruk (riba, maksiat, dan yang haram lainnya), maka harusnya menjadi tenanglah hati manusia karena lembaganya telah tersedia dan tugasnya tinggal mengisi yang baik-baik saja. Telah ditetapkan Rezeki, Jodoh dan Maut untuk kita saudaraku, maka marilah tenangkan hati kita.

Tapi kemudian hati yang tenang ini menjadi gundah gulana, kita menjadi bertanya-tanya dari manakah asalnya hati yang gundah gulana ini??? Tentu hati yang gelisah itu datangnya dari bisikan syaitan yg menakuti manusia dengan kemiskinan dan membisikan kejahatan kedalam dada manusia. Maka mohonlah perlindungan kepada Alloh dari godaan Syaitan yg terkutuk, dan tentu tidak ada salahnya jika kita memohon perlindungan kepada Alloh sambil mengisi lembaga kita dengan melakukan kebaikan-kebaikan.

Setelah menulis sedikit review dari buku tereebut, kadang dalam dri ini berkata "Bahasan ini seperti bahasan orang-orang kalah" tapi semoga tulisan ini bukan tulisan orang-orang kalah, melainkan tulisan seorang pemberani dan seorang yang tenang jiwanya, karena ketetapannya yg pasti telah ditulis oleh yg Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al - Malik) lagi Maha Pemberi Rezeki (Ar - Razaq). 


Ditulis saat perjalanan pulang dari Yogyakarta - Bogor, di Bis Murni Jaya, April 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Libur Kuliah, Libur Belajar Juga Kah?

The Power Of Knowladge

Berharganya Jiwa Seorang Mukmin