Libur Kuliah, Libur Belajar Juga Kah?


Oleh : Al-Fakir, Dandi Setiadi

Kalau bicara soal liburan, pasti banyak orang yang seneng. Mulai dari anak TK sampe Mahasiswa, dari karyawan biasa sampai direktur utama, pun rakyat biasa sampai penguasa. Jauh-jauh hari biasanya kegiatan liburan sudah direncanakan  mau kemana, mau ngapain dan dengan siapa.

Hari ini, tanggal 2 sampai 14 Desember 2022 di PUTM, libur Semester Ganjil pun tiba. Teringat dulu saat masih menjadi Thalabah, sebelum libur tiba biasanya sudah merencanakan mau pergi kemana; Pulang ke kampung halamankah untuk bertemu keluarga? Ke tempat saudarakah? Atau mukim di asrama tercinta dan sesekali sembari mengeksplor bumi Kaliurang-Jogja yang istimewa bersama teman-teman yang tidak pulang ke kampung halaman? Tentu banyak pilihannya, yang penting klop antara kemauan dan kemampuan. Yang penting liburan diisi dengan sesuatu yang punya nilai manfaat. Meski sederhana, tapi terasa istimewa dan kaya makna.

Untuk yang tidak kemana-mana, tak perlu kecewa. Karena bahagia pun bisa dirasakan tanpa harus pulang atau pergi ke tempat wisata, tanpa menguras isi dompet di celana. Bahagia itu sederhana. Bahkan panutan kita, Nabi Muhammad Saw sangat bahagaia ketika di tempat sujudnya. 

Ada satu hal yang perlu diingat, bahwa liburan itu hanya berlaku untuk manusia. Adapun untuk pencipta manusia, Allah Ta'ala tidak pernah ada liburan (Kulla Yaumin Huwa Fii Sya'n). Gak ada tanggal merah untuk-Nya. Setiap hari dia selalu memperhatikan makhluk-Nya, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja. Oleh karena itu, dimanapun kita berada, Allah senantiasa bersama kita. Dalam hal ini, mari diingat pesan Imam Al-Ghazali, "Jangan sampai ada 1 tempat kebaikan, tapi kamu tidak menemukan kebaikan di sana. Dan jangan sampai ada tempat kejahatan, lalu Allah menemukanmu di dalamnya.''

Kembali ke soal libur kuliah. Apakah di liburan semester ini lantas kita libur belajar juga? Atau cuti menuntut ilmu? Kalau mengacu pada konsep pendidikan Islam yang berprinsip "Long Life Education", maka tidak ada libur dalam belajar, tidak boleh ada cuti dalam menuntut ilmu. Minal mahdi ilallahdi. Artinya, liburan harusnya dimaknai sebagai bentuk lain dari pendidikan di luar sekolah, asrama, pesantren, atau kampus. Misal, kita lebih banyak belajar lagi dari pengalaman hidup orang-orang di sekitar kita, merenungi setiap peristiwa, dan lain-lain yang berbentuk tafakkur dan tadabbur akan ayat-ayat kauniyah-Nya.

Hendaknya, kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan saat di asrama atau di kampus, terus dilanjutkan saat di rumah. Teruslah lakukan setiap kebaikan meski saat liburan. Jangan pernah bosan meski sepi akan penilaian. Karena tujuan tertinggi dari pendidikan dalam Islam adalah meraih ridha Allah Yang Maha Rahman.

Singkatnya, setiap pembelajar, setiap penuntut ilmu harus tetap menjadi manusia yang baik, meski tidak dalam kelas, walau tidak di atas sajadah dan walaupun tidak bersama gurunya. Baik di sekolah, di rumah, di masjid, di pasar, di jalan raya, dan dimana saja, mari berusaha berbuat kebaikan dan mengambil pelajaran dari setiap kebaikan yang dijalaninya. Selamat mengisi liburan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Power Of Knowladge

Berharganya Jiwa Seorang Mukmin