Belajar Dari Mata Lebah

Salah satu nasihat yang selalu saya ingat dari Ummi saat di rumah adalah agar banyak mengambil ibrah (pelajaran) dari salah satu hewan ciptaan Allah yang bernama lebah. Kalau orang Sunda menyebut hewan tersebut "nyiruan".

Kata Ummi, "Nak, jadikanlah mata kita ini seperti mata lebah (yang selalu memandang kebaikan),  bukan seperti mata lalat (yang selalu memandang keburukan). Karena cara pandang kedua hewan tersebut berbeda. Walaupun berada di tempat yang baik,  lalat akan selalu melihat sesuatu yang buruk dan menghisap sesuatu yang menjijikan. Akan tetapi lebah akan selalu mencari madu  terbaik dari bunga yang indah."

Begitu kira-kira nasihatnya. Singkat, padat,  tapi memiliki makna yang cukup mendalam jika dihayati dan implementasikan.

Kalau boleh diambil hipotesis, maka nasihat tersebut memberikan pesan agar dalam mengawali, membersamai dan menghakhiri sesuatu hendaknya dengan cara berfikir positif dan berpesarangka baik kepada seseorang, keadaan, terlebih kepada Allah SWT. Ini merupakan suatu sikap penting, sekalipun dalam keadaan genting.

Mendengar nasihat yang disampaikannya,  saya jadi teringat salah satu firman Allah dalam hadis qudsi, bahwa kita umat Islam, dianjurkan untuk selalu bersikap husnudzhan (perperasangka baik), terutama kepada Allah SWT.

Kata Allah SWT dalam Hadis Qudsiy:

أنا عند ظني عبدي بي 

"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku."


Ibnu Hajar al-Atsqalani saat men-syarah hadis tersebut dalam kitab Fathul Baari, beliau menukil perkataannya Imam al-Qurthubiy.  Kata Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab al-Mufhim, bahwa makna "persangkaan hamba-Ku kepada-Ku "  di antaranya adalah: 

1. Menyangka dikabulkan ketika berdoa

2. Menyangka diterima ketika bertaubat

3. Menyangka diampuni ketika memohon ampun (istigfar).

4. Menyangka diterima atau sah ketika melakukan ibadah beserta syarat-syaratnya karena berpegang pada kebenaran janji-Nya.


So,  point pentingnya; mari kita selalu berfikir positif, husnudzhan (berperasangka baik) dalam mengawali, membersamai bahkan mengakhiri sesuatu, terutama husnudzhan pada Allah SWT.



Kaliurang, 18 Agustus, 2021 saat masa karantina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Libur Kuliah, Libur Belajar Juga Kah?

The Power Of Knowladge

Berharganya Jiwa Seorang Mukmin