Bertanyalah Tanpa Mempersulit Diri
Oleh : Dandi. S
Dalam sebuah pribahasa dikatakan, "malu bertanya, sesat di jalan". Pribahasa ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa, bertanya adalah salah satu cara sederhana dan efektif untuk menghilangkan kebodohan, juga salah satu jendela pengetahuan. Dengan bertanya, kita bisa mengetahui pendapat dan paradigma seseorang tentang suatu permasalahan, tidak memandang suatu permasalahan hanya dari satu sudut pandang saja. Pun demikian, bertanya dapat memupuk rasa ingin tahu. Karena, rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang belum diketahui merupakan salah satu sifat manusia.
Bertanya itu penting
Pada dasarnya, bertanya itu merupakan sikap yang dibolehkan, bahkan dianjurkan. Sebagaimana firman Allah Swt,
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
".......maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". (QS An Nahl: 43)
Para sahabat pun dahulu bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hukum-hukum dalam Islam, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa ada 13 perkara yang ditanyakan oleh para Sahabat yang semuanya dicatat dalam al-Qur'an. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain tentang haidh (QS. (02): 222), tentang berperang pada bulan haram (QS. (02): 217), dll.
Jadi, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa, para sahabat itu bertanya kepada Rasulullah tentang sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, karena perkara yang ditanyakan merupakan hal yang sifatnya masih umum bagi mereka. Sehingga perlu ditanyakan kepada Rasul.
Jenis pertanyaan tentang kewajiban haji
Walaupun bertanya itu merupakan suatu yang dianjurkan, akan tetapi tidak semua pertanyaan dapat menambah keimanan, menambah pengetahuan dan memudahkan. Dalam beberapa kondisi tertentu, justru banyak bertanya tentang sesuatu yang sudah jelas diketahui, sehingga jika ditanyakan malah akan memberatkan dan mempersulit diri. Sebagaimana dikisahkan, bahwa Rasulullah pernah melarang sahabat untuk "banyak bertanya" pada hal-hal yang sudah jelas. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ia berkata,
"Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda, Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah. Kemudian seorang laki-laki bertanya, Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?, beliau pun diam, sampai orang itu mengulangi pertanyaanya tiga kali. Lalu Rasulullah bersabda, Jika aku mengatakan iya, tentu hal itu menjadi wajib, dan kalian tidak akan mampu." (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasai)
Sebenarnya, kisah-kisah tersebut adalah sebagai peringatan dan pelajaran buat kita, agar tidak mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas, seperti pertanyaan seorang sahabat, “apakah haji dilaksanakan setiap tahun?” Padahal, Allah sudah menurunkan ayat,
"Mengerjaknn haji adalah kewaiiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perialanan ke Baitullah." (Ali Imran: 97)
Dalam makna lahirnya, ayat di atas menyebutkan kewajiban haji secara mutlak, tanpa ada batasan jumlah. Allah telah menetapkan bahwa menunaikan ibadah haji itu satu kali adalah untuk seumur hidup.
Kisah Bani Isra'il
Dalam kisah yang lain juga diceritakan, yaitu kisah Bani Israil, kaumnya nabi Musa AS. Sebagaimana telah diabadikan dalam al-Quran Surat al-Baqarah ayat 67-71, yaitu kisah diperintahkannya Bani Israil untuk menyembelih seeokor sapi betina, tetapi mereka malah kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya pertanyaan tersebut tidak perlu. Dalam kisah tersebut mereka bertanya,
"Mohonknnlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar dia menerangknn kepada kami, sapi betina apaknh itu? Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami, apa warnanya?. Mohonkanlnh kepada Tuhanmu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu? !!"
Seperti inilah hakikat orang yang mempersulit dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah dan RasulNya mencela Bani Israil, karena mereka itu terlalu banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak berfaedah, pertanyaan yang hanya akan menyusahkan mereka sendiri. Ibnu Abbas berkomentar terhadap kisah ini, "seandainya mereka meyembelih sapi betina apa saja untuk disembelih, maka mereka dianggap sudah menjalankan perintah Allah. Tetapi, karena mereka mengajukan pertanyaan yang mempersulit diri, sehingga Allah pun mempersulit mereka." (Ibnu Katsir, 2009, 271)
Ibrah
Dari kisah-kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, bertanya tentang sesuatu yang dapat memberikan manfaat adalah sesuatu yang dianjurkan. Dimana pertanyaan tersebut dapat menambah keimanan, menambah ilmu dan pengetahuan. Tetapi, mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui dan sudah jelas, sehingga jika ditanyakan malah akan mempersulit dan memberatkan diri sendiri, merupakan sesuatu yang sebaiknya dihindari.
Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah berikut ini:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Artinya:
“ Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menanyakan (kepada nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, (justru) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika al-Qur’an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyantun.” (QS. Al Maidah (05): 101).
* Disarikan dari matkul Nailul Authar, dengan berbagai penyesuaian.
Wallahu A’lam

Komentar
Posting Komentar